Industri Kosmetik Dan Produk Herbal Punya Prospek Cerah

  • 09 April 2012
Industri Kosmetik dan Produk Herbal Punya Prospek Cerah

Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan, pada era modern saat ini, keberadaan industri kosmetik dan produk herbal tetap mempunyai prospek cerah. "Karena bila dulu hanya digunakan kaum perempuan dewasa sebagai kebutuhan sekunder, sekarang sudah meluas untuk kebutuhan primer dengan pengguna pria dan anak-anak," kata Hidayat saat meresmikan pembangungan pabrik PT Martina Berto Tbk di Cikarang Jawa Barat, Senin (23/4).

Hidayat juga melihat adanya tren masyarakat untuk menggunakan kosmetik berbahan alami dan didukung dengan potensi tanaman obat, kosmetik dan aromatik di Indonesia dengan jumlah 30 ribu jenis.

"Indonesia merupakan produsen tanaman obat, kosmetik dan aromatik nomor dua setelah Brazil. Kementerian Perindustrian mencatat bahwa omzet kosmetik nasional mencapai Rp7 triliun dan herbal nasional sebesar Rp11 triliun pada 2011," ungkap Hidayat pada peletakan batu pertama pembangunan pabrik tersebut.

Khusus untuk PT Martina Berto Tbk, omzet penjualannya tercatat Rp600 miliar pada 2011 dan diharapkan meningkat 77% pada 2012. "Saya meresmikan dengan bangga pabrik ini karena selain produk Martha Tilaar merupakan pelopor industri kosmetik dan herbal dalam negeri, baru kali ini ada pabrik yang sangat hijau," kata MS Hidayat.

Pabrik yang berada di Desa Sukaresmi, Cikarang Selatan itu merupakan pabrik ke tiga PT Martina Berto Tbk dan akan dibangun di kawasan seluas 9,5 hektare dengan konsep pabrik berwawasan hijau dan ramah lingkungan (green factory).

"Produk PT Martina Berto Tbk juga telah diekspor ke berbagai negara seperti ASEAN, Asia Timur, Timur Tengah, Eropa dan Amerika Serikat, sedangkan untuk 2012 dikembangkan ekspor ke negara-negara Asia Pasifik," jelas Hidayat.

Sementara untuk pasar dalam negeri, menurut Menperin, pangsa pasar PT Martina Berto Tbk adalah 18% untuk produk kosmetik dan 25% untuk produk herbal seperti spa, lulur dan jamu khusus wanita. Namun Hidayat melihat bahwa masih banyak bahan baku kosmetik dan produk herbal yang diimpor. 

"Saya hanya meminta agar impor bahan baku semakin dikurangi karena kita juga harus waspada bahwa Malaysia dan China yang juga menjadi produsen, sekarang melihat peluang pasar kosmetik dan herbal di Indonesia," tambahnya.

Ia berharap PT Martina Berto Tbk yang tergabung dalam kelompok bisnis Marta Tilaar melakukan inovasi produk. "Artinya melakukan penelitian mengenai penemuan baru dari teknologi, jadi institusi riset pemerintah juga dapat bekerja sama dengan industri semacam ini. Selain itu dapat juga untuk memproteksi bahan baku ilegal yang masuk karena bahan baku kosmetik masih separuhnya impor," jelas Menperin.

Sementara itu Martha Tilaar mengungkapkan, "green factory" yang ada di Cikarang itu adalah tempat untuk mengeksploitasi produk kecantikan dan herbal Indonesia.

Ia mengakui bahwa jumlah jenis tanaman yang dikembangkan di Cikarang masih 700 jenis dengan target 7.000 jenis dari 30 ribu jenis tanaman obat, kosmetik dan aromatik di Indonesia.

Presiden Direktur PT Marina Berto Tbk Bryan David Emil mengungkapkan dengan lahan 9,5 hektare tersebut seluas 6,5 hektare diantaranya akan digunakan untuk bangunan dan lahan pabrik obat tradisional dan kosmetik. Pembangunan direncanakan selesai dalam 10 bulan dengan nilai investasi Rp44 miliar dan diperkirakan siap beroperasi pada kuartal kedua 2013 dengan kapasitas produksi pabrik obat tradisional sebanyak 269 ton.

  • 09 April 2012

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita